Cinta Karna Allah

                Disuatu sekolah, tepatnya di sebuah sekolah SMU ternama di Yogyakarta. Ada satu anak perempuan, yang memiliki sikap dan etika yang begitu baik. Dia juga sungguh sangat sholehah juga rajin ibadahanya. Didalam organisasi disekolahnya dia bergabung dengan organisasi keagamaan atau rohis. Dia adalah Aisyah.

                Disekolahnya Aisyah sangat rajin membaca al-qur’an, sampai ditiap hari tepatnya diwaktu sebelum dzuhur tiba, ia sudah bersiap-siap untuk sholat. Dan hal inilah yang menjadikan ia disegani oleh teman-temannya. Dalam bidang akademikpun sama, Aisyah sungguh sangat aktif dalam berbagai pelajaran. Sehingga banyak sekali yang ingin dekat dengannya. Namun, satu kekurangan dia. Yaitu, dia kurang bisa bersosialisasi dengan banyak orang. Padahal, seharusnya ia bisa melawan itu semua dengan keberaniannya.

                Namun, ternyata hal ini membuat semua laki-laki tertantang akan hal ini. Sampai suatu ketika dikelasnya, Aisyah menemukan bukunya penuh dengan tulisan-tulisan yang begitu aneh dan membuatnya sedikit kesal. Isi tulisannya itu banyak sekali variasinya, mulai dari dia menyatakan kekagumannya, menyatakan perasaannya, bahkan ada yang sampai mengajaknya jalan.

                Sungguh, setelah Aisyah membaca tulisan itu semua, ia sangat kaget dan bertanya-tanya, siapa orang yang berani-beraninya mengotori bukunya lewat tulisan-tulisan yang tidak penting itu. Namun, ia mencoba menjaga amarahnya, dan alhdamdulillah ia dapat mengendalikan kemarahannya. Dan Aisyah pun secara lambat-laun mulai melupakan kejadian yang menyebalkan itu. Sampai akhirnya, Aisyah bisa beristiqomah kembali seperti biasanya. Dan berharap semoga tidak ada seorang lelaki yang mengganggunya kembali.

                Hari-hari yang Aisyah lalui selalu hangat dan bersahabat, sebab banyak sekali orang-orang yang sangat peduli kepadanya.

                Alhamdulillah. sekarang, Aisyah duduk di bangku kelas XII, dan sebentar lagi ia akan mengikuti Ujian Naional. Namun, alangkah tekejutnya ketika Aisyah dipanggil oleh salah satu guru pengajarnya agar mengajarkan satu siswa laki-laki, dengan alasan karena ia belum bisa memahami pelajaran itu semua. Dia adalah Rian, anak yang bengal dan nakal. Awalnya, Aisyah memang menolak, dengan alasan karena ia bukan mukhrimnya. Namun, gurunya memcoba meyakinkannya, dengan catatan niatkan hatimu untuk menolongnya. Dan akhirnya Aisyah pun mau dan menuruti itu semua. Kini hari-hari yang ia lalui setelah pulang sekolah ialah belajar bersama Rian di sekolah mempelajari beberapa pelajaran yang memang akan di UN-kan.

                Sampai akhirnya UN pun sudah ada didepan mata anak-anak SMU. Sebelum UN, seperti biasanya sekolah mereka mengadakan istigosah guna meminta agar mereka semua dimudahkan dalam mengerjakan Ujiannya.

….

                Akhirnya, jam 08.00 pun tiba, dan alangkah bahagianya ketika Aisyah melihat selembaran kertas yang diberikan oleh pengawas kepadanya. Dan alhamdulillah, ia pun lancar mengerjak soal-soalnya. Dan selama UN Aisyah selalu melihat Rian, ia khawatir takut Rian tidak dapat mengerjakan soal-soal itu. Namun ia sedikit berharap semoga Rian baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan soalnya. Setelah UN selesai di adakan, tiba-tiba laki-laki itu menghilang di sekolah. Dia tidak pernah terlihat di sekolah. Sampai membuat Aisyah cemas dan kebingungan.

                Sampai akhirnya pada acara kelulusan. Tiba-tiba ia bertemu Rian didepan gerbang sekolah. Itu membuat Aisyah bahagiaan tiada duanya. Saat pembagian kelulusa Alhamdulillah, mereka semua lulus dengan hasil yang begitu memuaskan.

                Tiba-tiba Rian menghampiri Aisyah dan berkata berkata “terimakasih untuk semuanya, berkat kamu, saya bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional dengan lancar, dan berkat kamu pula saya mendapat nilai yang cukup memuaskan. Sekali lagi terimakasih” mendengar perkatannya itu Aisyah pun menjawab dengan cuek “sama-sama”.

                Beberapa hari kemudian, si perempuan itupun mencari tempat perguruan tinggi sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikannya.

                Kini hari-hari Aisyah sungguh sangat berbeda, mulai dari adanya teman baru, juga lingkungan yang baru. Namun, hal ini tidak membuatnya berubah, ia pun tetap beristiqomah.

                Kini, 4 tahun telah berlalu dan Aisyah pun sekarang sudah mempunyai lulus S1. Dan ini sungguh sangat membuatnya bahagia, dan membuat kedua orang tuanya bangga, karena melihat anaknya berhasil.

Saat Aisyah membuka ponselnya, tiba-tiba ada pesan dengan tulisan :

“assalamuallaikum, bagaimana kabarmu?”

Aisyah pun bingung, dari siapa pesan ini?.

Lalu ia membalas “wa’alaikumsalam, alhamdulillah baik. Ini siapa?

Pengirim pesan itu menjawab “alhamdulillah, apa kau masih ingat dengan pria yang kamu ajari ketika SMU”

Aisyah kaget dan terkejut ternyata ini adalah Rian pria yang ia ajari ketika SMU. Hal ini sungguh membuatnya sangat senang dan bahagia.

                Setelah Aisyah tahu, iapun membalas pesannya itu. Dengan balasan yang sewajarnya saja. Namun, ditengah-tengah pesannya itu, tiba-tiba Rian menginginkan untuk bertemu dengan Aisyah, namun ia langsung menolaknya secara halus. Namun, apabila ia menginkan bertemu secara serius Aisyah akan menerima ajakannya, dan ternyata Rian mengiyakan lalu Aisyah memberikan alamat. Dengan alamat : Jln. Raya Pangkalan, Desa Sukajaya, Kec. Tamansari, Kab Bogor.

Dan setelah Rian mendapatkan alamatnya, maka hari selanjutnya iapun mencari alamat itu, dan alangkah terkejutnya ketika ia mengetahui ternyata alamat yang ia tuju, itu alamat rumah Aisyah. Awalnya ia kaget namun, lambat-laun ia bisa mengkondisikan setelah ia bertemu dengan keluarganya. Rian pun bertemu dengan Umi dan Abi Aisyah dan mereka berbincang tentang segalahal. Tiba-tiba Aisyah bertanya pada Rian “dimana kamu melanjutkan pendidikanmu setelah sekian lama kita tidak berjumpa??” Rian pun menjawab “aku melanjutkan pendidikannya di UI jurusan arsitektur”. Hal ini sungguh sangat membuat Aisyah kaget dan tidak percaya.

Di hari selanjutnya, Rian pun menginginkan kembali bertemu dengan Aisyah dengan tujuan ia menginginkan komitmen darinya. Ia bermaksud ingin menikahi Aisyah. Lalu Aisyah langsung menjawab “jika kamu memang sudah bersedia untuk menikahiku datanglah kerumahku bersama kedua orang tua mu untuk bertemu kedua orang tuaku.

Dan akhirnya Rian pun mendatanginya dengan membawa kedua orang tuanya berniat untuk menta’aruf Aisyah dan akhirnya Aisyah menerima pinagan Rian. Mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s